Apakah
kau punya teman masa kecil?
Aku punya. Dan aku yakin kau juga.
Saat itu aku masih TK di Bekasi. Temanku itu bocah
yang lucu, periang, bayak tahu, selalu ingin tahu, kadang sok tahu juga sih, tapi suka menolong. Jadi... begini,
Setiap hari kita sering main bareng. Ya tentu saja sama
teman-teman yang lain juga. Setiap pulang sekolah selalu main, main, dan main.
Rasanya sangat menyenangkan, mengingat yang perlu kami kerjakan cuma main.
Karena anak itu juga lah, aku terus latihan sepeda roda dua, meskipun rasanya
sangat sulit x_x. Jatuh, berdarah, itu udah kejadian yang biasa. Karena anak itu juga, rasanya aku selalu ingin mencoba hal baru. Karena anak itu juga, aku semakin suka gambar. Kakaknya jago banget gambar, manga gitu... dan itu keren banget (seingetku ya, tapi beneran ._.) Bocah itu pernah bilang kalau gambar aku juga bagus, dan mungkin nanti bisa lebih bagus lagi. Mendengar itu, rasanya sangat menyenangkan haha, dan sejak saat itu aku mulai menyukai menggambar, apa saja, dimana saja dan kapan saja ('-')9, ehgadeng -_- intinya jadi suka gambar pokonya, ga sesering "dimana saja dan kapan saja"~
Aku masih ingat, kedua orangtuanya adalah guru. Jadi setiap hari dia di rumah dengan kakaknya dan juga Teteh yang setiap hari menyiapkan makan dan mengurusinya. Teman-temanku paling suka main ke rumahnya, soalnya banyak mainan hehe :3
Oya aku juga masih mengingat kejadian ini, saat itu kami berlima (re: bersama teman-temanku yang lain juga) sedang bermain pernikahan (ya, semacam itulah -,- namanya juga masih kecil =.=). Yang jadi pengantin laki-lakinya dia. Berhubung waktu itu ada 3 orang perempuan, jadi dia boleh memilih salah satu dari kami untuk menjadi pengantin perempuannya. Jujur, aku tidak begitu berminat menjadi pengantin perempuan. Itu menggelikan, pikirku dalam hati. Dari awal aku kurang menyukai permainan ini. "Aku mau Nanan yang jadi istri aku" katanya tiba-tiba sambil nunjuk ke arahku. Aku kaget x_x Dan yang benar saja, dia malah memilihku. Hahaha, konyol memang. Mengingat itu aku malu sekali. Teman-temanku yang lain malah meledekku "ciiee cieee", dan terlihat kesal karena mereka tidak dipilih. Jujur, aku takut banget kalau teman-temanku yang lain jadi marah sama aku. Aku bingung. Dan akhirnya kabur dan pulang ke rumah.
Hari berikutnya, aku enggan bermain. Dan tiba-tiba, anak itu datang ke rumahku. Dia meminta maaf untuk kejadian kemarin. Jujur, akulah yang seharusnya minta maaf, tapi aku ga salah sih, dia yang salah, eh ga juga sih, entahlah aku masih bingung. Akhirnya kami baikan. Dia cerita kalau dia mau pindah. Dan rasanya itu cepat sekali. Dia pindah, entah kemana. Tidak lama setelah ia pindah, keluargaku juga pindah ke Jakarta Selatan. Dan sejak itu, kami tidak bertemu lagi hingga sekarang. Aku bertanya-tanya, seperti apa ya dia sekarang? Haha, bocah periang yang banyak tahu itu?


0 comment:
Post a Comment